Haduh, kaget liat tanggal posting terakhir. 2 April 2009. Sudah lebih dari 2 tahun nggak pernah posting disini . Kangen juga… mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk ‘buka puasa’ ngeblognya…
Kebetulan hari ini habis jaga di Triage Interna RS Sanglah. Tumben, nggak ngerasa terlalu capek atau ngantuk. Jangan tanya kenapa, soalnya saya juga nggak tau knapa. Tumben aja, sampe jam sgini masih on di depan tv. Sampe akhirnya, ntah ada angin darimana pingin skali rasanya buka laptop dan berbagi cerita disini. Sebenernya ada banyak hal yang ingin dibagi. Terutama tentang sebuah pilihan. Ya, saat ini saya memang sedang dalam keadaan yang agak sulit karena harus menghadapi beberapa hal yang harus dipilih. Yang lebih berat lagi, karena pilihan yang saya ambil secara tidak langsung mungkin akan mempengaruhi masa depan. Haha.
Pilihan terbesar saya saat ini adalah memilih pacar. Haha. Seberapakah penting pacar buat saya saat ini? Mungkin teman hidup, sahabat terdekat selain 3 teman terbaik saya (devi,dewi,lisa), mood booster, atau keluarga baru untuk orang-orang terdekat? Jawabannya, bisa semua. Karena menurut saya dya bukan hanya menjalin hubungan dengan saya, tetapi juga dengan keluarga inti, keluarga besar dan yang terpenting teman-teman saya. Haah… saat ini, pertanyaan terbesar saya adalah apakah keputusan yang saya ambil adalah benar?! Setelah menjalani hubungan selama ± 3 tahun dengan mantan pacar terakhir saya, saya dibuat harus mengambil keputusan yang menurut saya cukup berat, bahwa ternyata memang bukan dia. Saya kira tidak butuh banyak waktu untuk mengenal seseorang lebih dekat atau lebih dalam. Tapi ternyata, sekian waktu yang dijalani belum cukup untuk saya meyakinkan diri saya bahwa saya harus tetap bertahan. Bahkan, saat ini bisa dibilang tidak ada alasan yang kuat untuk mempertahankan hubungan yang sudah dijalankan sebelumnya. Bukan berarti selama ini hub tersebut tidak didasari rasa sayang atau apalah, tetapi menurut saya begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Ya backgroundnya, ya cara dia menghadapi hubungan kita termasuk apapun tetekbengeknya, dan pastinya menurut saya adalah saya harus tahu dya punya mapping masa depan. Itu penting, bukan untuk saya saja, tapi yang pasti untuk dirinya sendiri juga . Mudah-mudahan ini bukan hal yang terlalu sulit untuk dipenuhi, karena menurut saya setidaknya dengan punya planning yang baik, diiringi dengan usaha yang cukup, bisa menjadi sebuah dasar yang baik untuk hubungan lebih lanjut. Haah, ini semua mulai terpikir saat bertukar pikiran dengan mama. Baru tersadar bahwa ternyata umur saya sudah semakin bertambah, tanggungjawab pun mengikuti dibelakang. Sebagai anak tertua, saya masih punya tanggungjawab dengan adik saya. Minimal memberikan contoh yang baik, walaupun slama ini saya belum sepenuhnya bisa memberikan contoh yang baik untuk mereka. Tapi setidaknya, menurut mama, cara saya memilih pasangan akan dinilai oleh adik-adik saya dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mempengaruhi mereka nantinya. Hal kecil. Simpel, nggak susah, tapi setelah dijalankan… susah. Saat ini saya hanya bisa berharap, semoga keputusan yang saya ambil baik untuk semuanya. Nggak ada yang perlu disesali nantinya. Berat, tapi ini adalah final keputusan, setelah banyak berkonsultasi juga dengan orang-orang terdekat. Maaf, saat ini rasanya ini memang yang terbaik.